Baznas Ngawi berhasil mengantarkan Sefita Ardhia Pangestika mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Azerbaijan
Baznas Ngawi: perwakilan dari hampir 200 negara menghadiri Conference of the Parties (COP) 29, di Baku, Ibu Kota Azerbaijan. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ini, diikuti para pihak yang menandatangani komitmen bersama dalam mengatasi perubahan iklim tidak kalah menariknya salah satu Mahasiswi asal Kabupaten Ngawi atas nama Sefita Ardhia Pangestika menjadi perwakilan KTT tersebut.
Azerbaijan adalah sebuah negara yang menghubungkan Eropa Timur dan Asia Barat. Negara ini diapit Rusia di sisi utara dan Iran di bagian selatan. Di sebelah timur berbatasan dengan laut Kaspia yang sebenarnya adalah danau sangat besar, yang tidak terhubung dengan samudera manapun. Sementara di sebelah barat, ada Turki, dan di barat laut berbatasan dengan Gorgia.
Sefita Ardhia Pangestika mengatakan bahwa Indonesia memiliki cadangan kredit karbon sebesar 577 juta ton yang akan ditawarkan kepada berbagai negara dan pihak yang berkepentingan. Hasilnya, akan digunakan untuk mendukung pembiayaan pengendalian perubahan iklim di Indonesia, seperti dikutip dari Antara.
Indonesia menetapkan target penurunan emisi hingga 31,89 persen pada 2030 dengan upaya sendiri, dan 43,2 persen dengan bantuan internasional. Sementara pada 2060, Indonesia akan memangkas emisi gas rumah kaca hingga 100 persen atau net zero emission.
Berikut beberapa fakta menarik seputar penyelenggaraan COP29 di Azerbaijan.
1. Kontroversi Negara Penyelenggara
Pemilihan Azerbaijan sebagai negara penyelenggara tidak lepas dari kontroversi. Azerbaijan merupakan negara penghasil gas dan minyak bumi, yang merupakan sumber bahan bakar fosil. Kedua jenis bahan bakar ini dituding sebagai penyebab utama perubahan iklim karena melepaskan karbon dioksida ketika diubah menjadi energi.
Negara ini juga disebut-sebut memiliki rencana memperluas produksi gas dalam dekade mendatang. Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Azerbaijan tidak bersungguh-sungguh mengurangi bahan bakar fosil. Padahal, kesepakatan COP antara lain mengurangi penggunaan bahkan menghentikan sama sekali energi tak ramah lingkungan di tahun-tahun mendatang.
Ketua COP29 Mukhtar Babyev adalah menteri ekologi dan sumber daya alam Azerbaijan yang sebelumnya menjadi eksekutif di sebuah perusahaan minyak. Jabatan ketua COP digilir ke lima wilayah dan tahun ini giliran Eropa Timur. Tahun lalu penyelenggara konvensi adalah Uni Emirat Arab, yang juga merupakan salah satu pemain utama energi fosil dunia.
2. Sedikit Perempuan
Dalam penyelenggaraan COP tentang perubahan iklim kerap memunculkan pertanyaan, berapa banyak pemimpin perempuan yang terlibat. Pertanyaan itu cukup mendasar, sebab perempuan menjadi pihak yang sangat terdampak perubahan iklim. Diperkirakan, sebanyak 80 persen dari pengungsi akibat cuaca ekstrem adalah perempuan dan anak-anak. Pada 2050, diperkirakan perubahan iklim bisa mendorong 158 juta orang masuk ke jurang kemiskinan.
Mengutip BBC, pada sesi foto bersama para pemimpin delegasi yang menghadiri COP29, jumlah perempuan yang hadir bisa dihitung jari. Jika tahun lalu hanya 15 perempuan yang tampil di antara 133 pemimpin, kali ini hanya 8 orang. Sedikitnya keterwakilan perempuan juga terlihat di ruang-ruang sidang. Tim negosiasi dan anggota delegasi kebanyakan adalah pria. Porsi perempuan hanya 38 persen.
Hutan hijau, udara segar, dan air bersih merupakan kekayaan alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia di Bumi.
3. Tuduhan Greenwashing
Greenwashing adalah istilah yang menunjuk pada strategi komunikasi yang mengaburkan atau memutarbalikan fakta terkait lingkungan. Tujuannya, membuat publik percaya bahwa perusahaan atau sebuah organisasi menghadirkan layanan atau produk ramah lingkungan dan berkelanjutan. Padahal, justru sebaliknya. Perusahaan atau organisasi ini melebih-lebihkan pencapaian prolingkungan mereka dibanding dampak negatif dari aktivitasnya.
Praktik yang sama dialamatkan ke Azerbaijan. Negara ini memiliki sejumlah proyek pembangkit tenaga surya. Misalnya di Jabrayil, juga di Baku. Azerbaijan tampaknya berupaya menarik investasi asing dalam energi terbarukan, mengutip Conversation. Namun di sisi lain, Azerbaijan bernafsu meningkatkan produksi minyak dan gas, serta memperluas cakupan industri ekstraktif.
Aktivis lingkungan Greta Thunberg mengatakan hal senada dan karenanya tidak berminat hadir pada COP29. Dalam tulisan opini di Guardian, dia menulis keprihatinannya akan penyelenggaraan konvensi itu ditengah krisis kemanusiaan dan lingkungan.
“Seluruh perekonomian Azerbaijan dibangun diatas bahan bakar fosil, dengan ekspor minyak dan gas perusahaan minyak milik negara Socar yang mencakup 90 persen dari ekspor negara itu,” tulisnya.
“Negara ini berencana untuk memperluas produksi bahan bakar fosil, yang tidak sesuai dengan batasan 1,5 derajat C dan tujuan perjanjian Paris tentang perubahan iklim.”
Hutan mangrove yang sangat penting memberikan jasa lingkungan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
4. Kesepakatan Perdagangan Karbon
Selang sehari setelah pembukaan, pada 12 November, Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB Simon Stiell mengumumkan bahwa COP29 telah menyepakati standar pasar karbon internasional.
“Saat beroperasi, pasar karbon ini akan membantu negara-negara menerapkan rencana iklim mereka dengan lebih cepat dan lebih murah, sehingga mengurangi emisi. Kita masih jauh dari pengurangan emisi hingga setengahnya pada dekade ini, tetapi kesepakatan di pasar karbon pada COP29 akan membantu kita kembali ke perdebatan itu,” katanya, dikutip dari UNFCCC.
Kesepakatan standar pasar karbon akan membuka peluang negara-negara berkembang membeli kredit dari negara-negara kaya untuk proyek-proyek mitigasi emisi, mengutip Bloomberg. Nantinya, pasar karbon akan dioperasikan PBB.
Kredit karbon dihasilkan dari berbagai kegiatan yang mengurangi atau menghindari emisi gas rumah kaca yang memanaskan bumi. Misalnya, dengan cara menanam pohon, melindungi tempat yang menyimpan karbon, atau mengganti batubara dengan alternatif energi bersih. Satu kredit setara dengan satu ton karbon dioksida.
Setelah berjalan, pasar karbon akan memungkinkan terutama negara-negara pencemar yang kaya untuk mengurangi emisi dengan membeli kredit dari negara-negara yang telah memangkas gas rumah kaca, melebihi yang mereka janjikan. Negara-negara pembeli kemudian dapat menggunakan kredit karbon untuk mencapai tujuan iklim yang dijanjikan dalam rencana nasional mereka.
Sementara itu, Sefita Ardhia Pangestika mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada BAZNAS Kabupaten Ngawi dan seluruh umat muslim di Ngawi yang telah membantu akomodasi saya untuk mengikuti Conference of the Parties (COP) 29, di Baku, Ibu Kota Azerbaijan. Bantuan ini dapat membangkitkan dan menambah semangat serta tekad yang kuat, untuk lebih maju dan mandiri,” kata sefita (Bzs.shi)